Moment: Pelajar Peduli PEMILU

13 03 2009
buat kamu pelajar kota Malang, ikutilah moment ini

buat kamu pelajar kota Malang, ikutilah moment ini





MBS? Apaan Tuh?

21 07 2008

Hai sobat peduli…

Kali ini mari kita bersama-sama memperhatikan sekolah kita masing-masing. Kayak apa sekolah kita sekarang? Udah maju apa belum? Hmm… kondisi bangunan dan fasilitasnya udah oke belum ya?

Mungkin sebagian dari kita akan jawab “Belum! Belum sama sekali. Perpusnya jelek, Lab. Komputernya kecil, toiletnya kotor, atap bocor…” dan segudang keluhan lain. Atau mungkin ada juga yang bisa dengan bangga mengatakan, “ Ya udah dong… liat aja catnya keren gitu. Lapangan keren juga. Lebih-lebih yang nempatin orang keren kayak kita, hehehe…”

Wah iya deh, buat kamu yang ngaku sekolahnya udah keren, selamat ya…

Tapi tunggu dulu, jangan-jangan yang bagus cuma luarnya aja? Jangan-jangan bangunannya keren tapi proses kegiatan belajar mengajarnya masih buruk. Susah juga kalo gitu.

Atau… kamu pernah nggak ngerasa kalo pemerintah (lewat dinas-dinas terkait) terlalu mengatur kebijakan di sekolahmu? Nggak boleh ini itulah, harus begini-begitulah… pokokya pernah nggak kamu berpikir bahwa urusan birokrasi itu mbuletnya minta ampun and ujung-ujungnya nggak beres.

Itu semua sebenarnya karena system sentralistik Sob! Terpusat gitu, maksudnya. Dan gara-gara semua serba terpusat, sekolah kita jadi nggak punya banyak wewenang untuk bikin kebijakan yang baik buat kita. Lebih dari itu, karena dana pemerintah pembagian dan alirannya ngikutin apa kata orang pusat, biasanya paling-paling yang sampai ke sekolah kita tinggal separuh dari anggaran. Sisanya kemana? Yah, tau sendirilah…

Akhirnya, untuk “menyemangati” kita, pembangunan akan dilakukan di sektor fisik saja dan itupun dibuat sangat menonjol. Misalnya cat bangunan, dibikin dari kuning ke ijo, ato ijo ke kuning. Dengan adanya perubahan ini kita dibuat tertipu dan merasa sekolah kita oke-oke aja.

Tapi yakin banget, kita bukan orang yang mudah tertipu. Sekarang kita mesti tau bahwa selama ini kita dikerjain sama orang-orang reseh yang ngambil duit pendidikan untuk uang makan mereka. Nyammmm…

Makanya Sob! Kita butuh suatu perbaikan system. Dan solusinya adalah Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS). Sistem ini emang keren punya. Secara… sistem ini memperbolehkan kita untuk lebih berpartisipasi menentukan kebijakan-kebijakan yang ada di sekolah. Dana pun nggak akan repot-repot lewat birokrasi. Kalo takut kepala sekolah kamu yang bakal korupsi, jangan khawatir, sistem ini mengharuskan adanya transparansi antara kamu, sekolahmu, dan para orangtua. Kalo ternyata guru-gurumu keseringan rapat di rumah makan mewah pake duit sekolah (dan yang lebih parah nggak ajak-ajak kamu, hehehe..) kamu bisa langsung protes.

Asyik kan! Dan buat sekolah kamu manfaatnya akan besar banget. Selain dana akan lebih banyak karena bersih dari korupsi, sekolah kamu bisa berkonsentrasi ke cara-cara mengembangkan kamu sebagai peserta didik. Soalnya kebutuhan setiap sekolah kan pasti beda, Sob! Kalo disamain jadinya nggak akan maksimal.

Makanya Sob… kalo pengen sistem ini berlangsung di kota Malang, kita harus cari cara jitu. Salah satunya adalah memilih pemimpin yang bersedia menjalankan progam itu. Tanggal 23 Juli 2008 ini kan ada pemilihan wali kota baru tuh, rame-rame aja kita pakai suara kita memilih pemimpin yang mau mendukung kita. Pemimpin yang punya semangat membela kita kaum muda dan mengayomi yang tua. Bersama-sama kita bikin Malang menjadi kota sejahtera, yang kaum mudanya berkualitas dan cerdas. Tunjukkan bahwa kita punya suara. Jangan mau ngikut aja, atau malah jadi golongan sok putih yang nggak mau milih.

Semangat Sob! Nyawa kota Malang selanjutnya, ada di tangan kita.





MALANG IJO ROYO-ROYO?

9 06 2008

Hai Sobat Peduli…

Kali ini yuk kita memperhatikan kondisi lingkungan hidup di sekitar kita. Penting loh buat remaja-remaja seperti kita untuk lebih peduli pada lingkungan mulai dari sekarang. Coz kita kan hidup di lingkungan tersebut, otomatis kalau lingkungan hidup rusak, kita juga yang akan ngerasain efeknya.

Akhir-akhir ini, ngerasa nggak sih kalo Malang tambah puanas? Buat yang baru ngekos atau tinggal di Malang baru-baru ini, mungkin nggak terlalu ngerasain perubahan itu, tapi buat para Aremania yang lahir, dibesarkan, dan tumbuh kembang di kota ini perubahan ini terasa sangat drastis. Dulu, Malang kan terkenal dengan julukan kota dingin, tapi sekarang sepertinya julukan itu udah nggak relevan lagi deh.

Kota Malang memang telah berubah. Dengan slogan Tribina Citra Kota Malang yaitu Malang Kota Pendidikan, Kota Industri, dan Kota Pariwisata, kota ini makin memacu dirinya untuk memajukan pembangunan di segala bidang. Ya, Malang telah berkembang sedemikian pesat. Lihat saja, industri-industri seperti industri keramik, tempe, meubel, dan banyak lagi berkembang dengan suburnya. Kemajuan sektor pendidikan pun telah diakui secara nasional. Terbukti dengan banyaknya siswa dari luar Malang yang “menyerbu” lembaga-lembaga pendidikan di kota ini. Julukan “Malang Kota Pendidikan” semakin mengukuhkan fakta tersebut. (Kritikan aja nih buat pemda, kayaknya tinggal sektor pariwisata aja yang pengembangannya belum maksimal huhuhu…) Sektor ekonomi pun semakin menggeliat dan melaju pesat. Fasilitas-fasilitas publik diperbanyak dan dijamin memanjakan masyarakat. Mall, pusat perbelanjaan, klinik dan rumah sakit, perpustakaan, toko buku, dan seabreg fasilitas lainnya. Makin betah deh, tinggal di sini.

Namun, segala untuk meraih kemajuan yang pesat, pasti ada yang dikorbankan. Seperti kata pepatah no pain no gain. Mau nggak mau harus ada yang “rela” dikorbankan untuk bisa meraih sebuah tujuan. Sayangnya, dalam hal ini, yang dikorbankan adalah lingkungan hidup.

Korban yang paling kentara adalah Ruang terbuka Hijau. Eits, tunggu…. emang apaan sih ruang terbuka Hijau? Yuk kita tanya Ahlinya…. Ketua Dewan Daerah Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Jawa Timur, Purnawan D Negara mengatakan, yang dimaksud dengan ruang terbuka hijau antara lain bantaran sungai, resapan air, taman kota, hutan kota, makam, kawasan Universitas Brawijaya, Kampus Penyuluh Pertanian Tanjung, dan lapangan olah raga. Tetapi, kenyataannya Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mengizinkan pembangunan mal di areal Stadion Gajayana dan Jalan Veteran yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau. Selain itu, ujarnya, pemkot juga membiarkan berdirinya rumah mewah, restoran, kantor, dan ruko di sekitar lahan resapan air Taman Kunir. Bahkan, eks lahan Kampus Penyuluh Pertanian di Tanjung juga sudah beralih fungsi menjadi permukiman. Era hutan-hutan beton pun dimulai! Jreeengg!

Tau nggak sih, berdasarkan Harian Tempo Interaktif hari Jum’at, 13 Agustus 2004, ternyata ruang terbuka hijau di Kota Malang hanya tinggal empat persen dari seluruh luas wilayah yang mencapai 110,06 kilometer persegi. Wuaahh?! Empat persen? Pantes rasanya kok makin garing aja nih kota! Data yang terbaru tahun 2008 malah lebih garing lagi. Menurut perhitungan Walhi Jatim, ruang terbuka hijau di Kota Malang kini tinggal 1,8% dari total luas wilayah 110,6 kilometer persegi. Sedangkan lahan resapan air hanya tinggal 40 persen. Padahal, menurut UU No 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang luas, ideal ruang terbuka hijau harus mencapai 30% dari total luas wilayah yang terdiri atas 10% ruang terbuka hijau privat dan 20% untuk publik. Fiuh… kalo kaya gini terus kita bakalan meleleh, lumer, dan menguap hingga tak tersisa (lebih tragis daripada jadi “garing”!)

Berarti kondisi Malang saat ini sudah menyalahi aturan pemerintah dong? Wah, kok gini ya? Kondisi ini sudah pasti salah, bukan hanya karena aturan pemerintah, tapi karena urgensi adanya ruang terbuka hijau tuh guedee banget!

Rusaknya lingkungan di Kota Malang, kata Purnawan, akibat kebijakan yang membolehkan terjadinya eksploitasi ruang terbuka hijau menjadi kawasan terbangun. Alhasil, kota yang dulu hijau, indah dan asri, kini kerap dilanda bencana banjir. (Well, liat sisi positifnya aja kali ya, paling nggak sekarang Malang punya “objek wisata bahari” di tengah kota. Fasilitas belajar renang gratis pun kini tersedia di mana-mana, terutama pas musim hujan sore-sore, huehehe… Btw ini nyindir loh!)

Untungnya, masih ada sekelompok pemuda yang sadar bahwa mereka nggak bisa cuek begitu aja terhadap fenomena ini. Lebih dari seribu mahasiswa dan masyarakat bergabung dalam kesatuan AMPL (Aksi Mahasiswa Peduli Lingkungan), menjalankan aksi unjuk rasa di halaman DPRD Kota Malang, pada hari Jumat, 13 Agustus 2004 lalu. Mereka menuntut agar DPRD kota Malang menghentikan pembahasan revisi Perda Nomer 7 tahun 2001, tentang rencana tata ruang wilayah Kota Malang. Coz Revisi Perda malah menghabiskan ruang terbuka hijau.

Menurut Kurniawan, revisi Perda akan mengubah dua kawasan. Pertama kawasan ruang terbuka hijau Akademi penyuluhan Pertanian (APP) yang terletak di Kecamatan Klojen dan ruang terbuka hijau Lapangan Rampal. APP akan dipakai untuk perumahan mewah, kawasan jasa dan fasilitas sosial. Sedangkan Lapangan Rampal sebagian wilayahnya untuk Bangunan atau rumah toko.

AMPL menilai pembahasan revisi perda tersebut bertolak belakang dengan visi dan misi Kota Malang sebagai kota pendidikan. Ironisnya, ketika AMPL mencoba memperjuangkan slogan (yang terlebih dahulu digembar-gemborkan oleh pemerintah sendiri) “Malang Ijo Royo-Royo”, pemerintah malah bikin slogan baru yaitu “Malang Ijo Ruko-Ruko” (?!??!). Walaupun AMPL sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup di Malang, menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol pemerintahan (yang katanya) demokratis tersebut, toh pemerintah tetap tak ambil pusing dan dengan cueknya menggolkan proyek-proyek yang semakin menambah hutan beton di kota ini .

Namun, masih ada harapan untuk membuat kota Malang hijau kembali. Mau tau cara yan paling instan? Cat aja semua mall dan ruko itu dengan cat warna ijo! Beres kan? (Sori, penulis jadi esmosi nih..ngosh..ngosh…!) Kalau di tahun 2004, AMPL telah beraksi, kini saatnya kita-kita, meneruskan perjuangan mbak-mbak dan mas-mas AMPL tersebut. Mulai saat ini ayo kita lebih peduli terhadap lingkungan. Mulai dari hal yang kecil-kecil dulu, misalnya biasakan untuk membuang sampah di tempatnya, menanam pohon di depan rumah, dan masih banyak lagi cara. Penulis yakin, kamu-kamu yang sedang baca tulisan ini adalah pemuda yang penuh dengan ide brilian! Yakin deh, bertahun-tahun kemudian kita sendiri yang akan merasakan efek manis dari kepedulian kita.

Peace…love…and green!





UBAH IMAGE E-Ge-Pe

26 05 2008

Emang Gue pikirin…… asyik betul lagu ini dinyanyikan orang dimana-mana. Katanya sih lagu ini digemari, karena syairnya yang sederhana, mudah dimengerti, dan….. dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Begitulah sebuah infotaiment berkomentar tentang lagu ini. menarik, mencermati bahwa ternyata Emang Gue Pikirin adalah dekat dengan kehidupan keseharian kita. Begitulah, generasi ini adalah generasi EGP. Terutama generasi mudanya, kebanyakan sibuk dengan diri dan dunianya sendiri. Nggak peduli sama yang lain. Meskipun lagu ini dibuat dan dinyanyikan oleh orang yang tidak lagi muda, tapi begitu populer, dan menghipnotis para muda, hingga tak jarang yang menjadikannya “falsafah hidup”nya. Serem kan?

Bukan soal lagunya. Karena bisa jadi isi lagunya sebenarnya bagus, dan mengandung pesan positif. Tapi, kali ini mari kita berpikir tentang Pemudanya. Sekali lagi, Pemuda, terutama Remaja. Remaja adalah awal masa muda, yang memiliki Energi dan potensi luar biasa besar. Hanya saja, kebanyakan remaja nggak mau peduli, dan cenderung mengatakan Emang Gue Pikirin… pada permasalahan diluar dirinya, bahkan permasalahan dirinya sendiri. Wah gawat! Kalo nggak mau mikir, mau jadi apa? Padahal kita semua tahu, pemuda itu tulang punggung negara. Coba pikirin (kali ini nggak boleh “emang gue pikirin” lagi) kalau para pemuda pada masa penjajahan enggak mau peduli tentang pentingnya merdeka, maka Indonesia nggak merdeka dong! Kalau Kartini, yang juga seorang pemuda, (atau pemudi…. boleh lah) enggak peduli dengan permasalahan diskriminasi gender, dan pentingnya pendidikan bagi perempuan, bisa jadi kita yang cewek-cewek, sekarang ni hanya boleh ada di dapur, sumur, kasur, hancur deh!.

Okey, sekarang stop to say : “Emang Gue Pikirin”, tapi “Emang Gue Peduli”. Jadilah bermartabat dengan menjadi remaja yang mikir dan peduli. Mikir, mau jadi apa, memperbaiki diri, dan peduli pada permasalahan disekitar kita. Melek, bahwa disekitar kita ada teman kita yang nggak bisa sekolah karena permasalahan biaya, atau permasalahan lainnya. Bahwa kota malang kita ini, sekarang sudah jadi gersang, panas saat kemarau, dan banjir saat hujan. Pohon-pohon, sudah berganti dengan suburnya mall dan Ruko. Bahwa narkoba, miras, pornografi, tawuran, hiburan malam dan freesex sudah jadi gaya hidup remaja. Teman-teman kita yang masih SMP, banyak lho, yang sudah akrab dengan hal-hal tadi (narkoba, miras,…). ngeri kan? Gimana? Masih enggak peduli? Masih punya moto Emang Gue Pikirin? Okey, now, Open Your mind, Open Your hand, Open Your Herat, Open Yourself. Jadilah lebih baik, dan tebarkan kebaikan.

—pelajarpeduli.Com—





100 Tahun Kebangkitan Nasional (Momentum Kebangkitan Pelajar)

21 05 2008

Teman-temanku sesama pelajar di kota Malang…

Sejarah mencatat hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 sebagai saat yang menentukan bagi bangsa kita. Kita tahu saat itu sekelompok pemuda yang tergabung dalam sebuah organisasi bernama Budi Utomo mulai memiliki cita-cita dan tujuan mulia untuk memerdekakan Indonesia.

Tapi teman-teman tahu nggak sih, sebenarnya usia para pemuda itu tak jauh dari usia kita. Namun meskipun demikian, mereka telah berhasil membuktikan bahwa usia tidak menghalangi mereka untuk berani bercita-cita dan berusaha keras untuk mewujudkannya. Mereka dengan sukses mengangkat nama pemuda sebagai generasi yang dapat diandalkan.

Namun 100 tahun telah berlalu. Kini kitalah yang mewarisi potensi besar kakak-kakak kita. Aku yakin dengan usia yang muda kita punya banyak kesempatan untuk aktif berprestasi dan memajukan negara ini. Aku yakin bahwa kita memang pemuda Indonesia yang sejati. Aku yakin kita bukan generasi yang hanya peduli pada urusan pribadi dan melupakan orang-orang di sekitar kita.

Teman-teman, mari kita saling merangkul dan menunjukkan pada ibu pertiwi bahwa kita juga peduli.

Mari bersama kita jadikan seratus tahun kebangkitan nasional ini sebagai momentum kebangkitan kita.

Hidup pelajar!

(by Rizma…)





Bocah pun Berjualan Narkoba

19 05 2008
Sebuah data mengejutkan dirilis Organisas Buruh lnternasional (ILO) Jakarta pekan lalu. berdasarkan hasil kajian cepat (rapid assessment) organisasi tersebut, 50 persen anak yang diwawacarai tim ILO di tiga wilayah Jakarta mengaku telah terlibat dalam pembuatan dan peredaran narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lain (narkoba).Adalah Dede Shinta Sudono, National Programme Officer pada Program Internasional Eliminasi Pekerja Anak (IPEC) ILO Jakarta, yang mengungkapkan temuan ini pada Kamis, dua pekan lalu. Menurut Dede, kajian cepat ini melakukan survei terhadap 92 anak di Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat. ” Ada 48 anak atau 50 persen dari mereka terlibat pembuatan obat terlarang. Anak-anak itu mengepak, membungkus, memasukkan obat ke amplop kecil, untuk selanjutnya dijual, atau mengepak dalam jumlah obat yang lebih besar untuk selanjutnya dikirimkan,”
katanya.

Soal awal keterlibatan anak- anak dalam kegiatan obat terlarang. Dede menyebut beberapa aspek. Di antaranya adalah kemiskinan absolut, tekanan teman sebaya dan peran keluarga, peran Bandar, serta masalah yang mereka hadapi di sekolah, termasuk putus sekolah.

Hasil kajian cepat ILO dipertegas dengan data aktual dari Badan Nasional Narkoba (BNN). Kepala Badan Nasional Narkoba (BNN) Komjen Pol Sutanto didampingi jajarannya di dalam Rapat Kerja dengan Komisi III DPR di Gedung DPR/MPR Jakarta, Rabu pekan lalu, menyebut, sekitar 15 ribu orang Indonesia setiap tahun meninggal akibat mengkonsumsi berbagai obat-obatan yang tergolong Narkoba. Saat ini, sebanyak 3,2 juta penduduk menjadi penyalahguna narkoba, termasuk 800 orang di antaranya kini terpaksa dirawat di sejumlah panti di dalam dan luar negeri.

Dari para korban itu sebanyak 6,9 persen adalah kelompok pemakai secara teratur dan 31 persen pecandu (dengan proporsi laki-laki 79 persen, sisanya 21 persen adalah kaum wanita). Sedang praktik penyalahgunaan pemakaian relatif kecil yakni 1,5 persen dari populasi yang terdeteksi BNN. Rincian kelompok pemakai secara teratur untuk ganja sebesar 71 persen, heroin/putaw (62 persen), shabu- shabu (57 persen), ekstasi (34 persen) dan obat penenang (25 persen).

Sementara, penelitian yang dilakukan Asian Harm Reduction Network (AHRN) terhadap remaja pengguna narkoba di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok cukup juga membuat kulit dahi berlipat. Dalam hasil penelitian yang dirilis pertengahan Februari lalu mereka menyebut, di lima kota itu, ternyata anak-anak usia 9 tahun telah mulai mengonsumsi narkoba. “Kebanyakan memulai dengan mengkonsumsi boti (obat tidur) seperti diazepam / valium. Sisanya memulai dengan konsumsi ganja,” kata Kepala Proyek Penelitian AHRN, Ratna Pasaribu.

AHRN menemukan terjadi peningkatan penggunaan narkoba di usia yang semakin dini. Dari lebih 500 responden remaja pengguna narkoba, termasuk pelajar dan mahasiswa yang diwawancarai, separuhnya atau 50 persen memulai penggunaan narkoba mulai umur 9-15 tahun. Menurut Ratna, hasil wawancara mendalam dengan para remaja pengguna menemukan bahwa peningkatan penggu naan narkoba di kalangan usia dini remaja adalah karena kemudahan untuk mendapatkan narkoba, rasa keingintahuan yang besar, dan pengaruh dari teman sebaya.

Ratna mencontohkan obat tidur yang seharusnya hanya bisa diperoleh dengan resep dokter, ternyata sangat mudah diperoleh di warung-warung kecil. “Para pembeli dan penjual itu sudah memiliki kode-kode tersendiri yang menyebabkan anak umur 10 tahun akan bisa mendapatkan valium dengan mudah,”urainya.

Para pengguna memperoleh akses pada pengetahuan dan pengalaman karena adanya pengaruh dari peer group atau teman sebaya. “ Prevalensi penggunaan juga ditambah dengan keingin tahuan yang sangat besar,” ujarnya.

Dari para pengguna narkoba diketahui bahwa 88 persen menggunakan ganja secara rutin. Sekitar 36 persen di antaranya adalah pengguna narkoba suntikan, “Yang notebene rentan tertular HIV/AIDS,” kata Ratna.

Sisanya yang lain secara rutin menggunakan heroin seperti putauw dan jenis amfetamine seperti shabu-shabu. Dalam jangka 2-3 tahun sesudah mulai memakainya, mereka akan berpindah ke narkoba suntikan. “ Atau setidaknya akan mencoba narkoba suntik,” ujarnya.

Yang sangat memperihatinkan, dari penelitian diketahui hanya sedikit atau di bawah 20 persen pengguna narkoba suntikan yang menyadari bahwa tertular HIV/AIDS adalah risiko yang mungkin mereka peroleh sebagai akibat penggunaan narkoba. “ Padahal kemungkinan seorang pengguna narkoba suntik terkena HIV/AIDS adalah sekitar 40-70 persen,” ujar Irene Lorette, Country Director AHRN Indonesia. Karenanya, lanjut Irene, tidak heran apabila hampir seluruh pengguna narkoba suntikan atau 98 persen menggunakan jarum suntik secara bergantian sangat berpotensi menjadi saluran penularan HIV/AIDS.

Sampai saat ini, menurut penelitian, keluarga dan sekolah atau kampus sama sekali tidak berperan dalam mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS. Sekolah atau kampus justru menjadi tempat yang paling aman untuk mendapatkan serta mengkonsumsi narkoba. “ Terutama kampus-kampus yang menjadi surga bagi para pengguna narkoba, urai Irene. “ Mana ada kampus yang melakukan razia narkoba ke mahasiswanya,” dia menegaskan.

Menurut Irene, penelitian menunjukkan kebanyakan pengguna (hampir 80 persen) mendapatkan informasi bahaya HIV/AIDS justru dari media massa. Sedangkan orangtua pengguna narkoba, menurut penelitian, sama sekali tidak mengetahui anaknya mengkonsumsi narkoba sampai beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun, “ Sekitar 45 persen orangtua pengguna narkoba yang kita wawancara, selama bertahun-tahun, belum mengetahui anaknya menggunakan narkoba” urainya.

Ditinjau dari sisi kerugian ekonomi, hasil penelitian BNN memprediksi kerugian bangsa Indonesia akibat penyalahgunaan narkoba hingga 2009 mendatang sebesar Rp46,5 triliun. Jika tidak ada upaya signifikan dari aparat untuk menanggulanginya maka akumulasi angka kerugian dari periode 2004-2009 akan mencapai sedikitnya Rp207 triliun.

Sutanto menyebutkan, biaya pengeluaran masyarakat untuk membeli narkoba menduduki peringkat pertama yakni sebesar Rp11,3 triliun atau menurun drastis jika dibandingkan besaran biaya pengeluaran untuk keperluan narkoba periode 2004 sebesar Rp23,6 triliun. Sedang

angka kematian pertahun akibat mengkonsumsi narkoba sebanyak 15 ribu orang.

“ Angka ini sangat mengkhawatirkan. Karenanya kami minta adanya peran serta masyarakat dan para orang tua untuk mendidik putra-putrinya agar tidak terlibat narkoba. Karena Narkoba merusak masa depan bangsa dan negara,” kata Sutanto.

Calon Kepala Polri ini mengakui pihaknya masih kesulitan untuk memutus mata rantai sindikat perdagangan gelap narkoba di Indonesia karena pasar di dalam negeri termasuk negara asing lainnya seperti Irak, Iran dan sejumlah negara Arab lainnya telah keranjingan bisnis narkoba. “ Kita kesulitan memberantas perdagangan narkoba selama pasar di dalam negeri masih menjanjikan. Saya akui bisnis narkoba ini sangat menggiurkan,” katanya.

Terkait suburnya pasar narkoba di dalam negeri kata Sutanto, BNN saat ini membuat strategi pencegahan peredaran narkoba dengan mendorong serta menggugah kesadaran masyarakat. Ini dilakukan untuk mencegah bertambahnya jumlah korban, mengingat akhir-akhir ini jumlah korban dari kalangan pelajar dan mahasiswa serta anak usia di bawah umur semakin bertambah.

Karena itu, Sutanto menyarankan supaya Pemda-pemda di Indonesia juga mendirikan Badan Narkoba di tingkat Pemda-pemda yang dibiayai oleh pemda setempat. Dengan demikian “ Moto pencegahan dini lebih baik dari pada mengobati ” dapat tercapai.

Masih soal peredaran narkoba. Kabar dari Kota Buaya menyebut, dalam lima bulan terakhir ditemukan 225 kasus narkoba dengan menggiring 281 tersangka ke meja hijau. Data tersebut menjadi bukti bahwa Kota Surabaya masih menjadi barometer peredaran narkoba di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Selama Januari, Polwiltabes Surabaya berhasil membongkar 37 kasus dengan 47 tersangka. Bulan selanjutnya. Februari, anak buah AKBP Djoko Mulyono, mengungkap 32 kasus dan 35 tersangka. Selama Maret, Polwiltabes membongkar 33 kasus dan 38 tersangka.

Angka pengungkapan melonjak drastis pada bulan April dengan 66 kasus dan 84 tersangka. Sedangkan bulan Mei, diungkap 57 kasus dan 77 tersangka. “ Untuk bulan Juni masih belum kami rekap,” kata Direktur Narkoba Polda Jatim, AKBP Ronny F. Sompie.

Jumlah pengungkapan narkoba di Surabaya jauh melebihi kota besar lain di Jawa Timur. Seperti Malang, misalnya. Kasus narkoba di Malang itu menembus angka 74 kasus dengan 98 tersangka. “Tidak ada separuhnya dengan kasus di Surabaya,” tandas Ronny.

Angka pengungkapan narkoba di wilayah Malang itu masih kalah dengan yang dilakukan aparat Polwil Kediri. Selama 2005, aparat Polwil Kediri berhasil membongkar 76 kasus dengan 112 tersangka.

Peredaran narkoba di Surabaya tak hanya mengungguli kota-kota lain di Jatim. Dari data yang dilansir Dit Narkoba Polda, peredaran narkoba di kota ini terus menunjukkan grafik naik dari tahun ke tahun.

Selama 2003 dan 2004 misalnya. Dalam dua tahun itu, aparat Polwiltabes berhasil mengungkap 814 kasus dengan 1156 tersangka. Rinciannya, selama 2003, Polwiltabes mengungkap 304 kasus dengan 455 tersangka. Sementara selama 510 kasus dan 701 tersangka.

“Untuk 2005, kemungkinan angka pengungkapan akan melampaui tahun-tahun sebelumnya,” tukas mantan Kapolres Sidoarjo ini. “Lihat saja. Dalam lima bulan mulai Januari hingga Mei
pengungkapan Polwiltabes sudah mencapai 225 kasus dan 281 tersangka,” imbuhnya.

Hal itu, lanjut Ronny, menjadi satu indikasi jika narkoba di Surabaya masih menjadi barometer di Jawa Timur. “Untuk kota di Indonesia, narkoba di Surabaya kalahnya dengan Jakarta,” papar alumnus Akpol 1984 ini.

Oleh karenanya, lanjut Ronny, sudah seharusnya masalah narkoba menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya aparat penegak hukum. “Masalah narkoba di Surabaya sudah begitu kritis. Harus segera ditangani serius. Kalau tidak, angka orang yang kecanduan atau menjadi pengedar narkoba akan semakin meningkat,” tandas perwira yang juga menjabat Kabid Gakkum BNP (Badan Narkotika Provinsi) Jatim ini.

Solusi seperti apa yang tepat untuk menekan peredaran narkoba di kota ini? Ronny mengungkapkan, ada banyak aspek yang perlu diperhatikan. ” Tidak hanya upaya penindakan yang dilakukan aparat kepolisian. Sebab, dalam penanggulangan narkoba, efektifitas penindakan hanya sekitar 30 persen,” terangnya.

Untuk pencegahan, Ronny mengungkapkan perlunya upaya interdiction (pencegatan, Red) di beberapa tempat fasilitas umum. “Kalau tidak ada detektor narkoba, minimal ada anjing pelacak. Dengan adanya pencegatan itu, minimal akan mempersempit ruang gerak pelaku narkoba,” urainya.

Sementara soal rehabilitasi, Ronny menjelaskan, belum ada panti rehabilitasi yang memadai.
” Selain itu, masyarakat juga harus bersikap welcome kepada para pengguna yang hendak meninggalkan dunia narkoba,” ulasnya.
(diambil dari www.bnn.go.id)








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.